
Ini bukan yang pertama kali.
Sejak kejadian di Lapangan Merah itu, aku mulai terbiasa curiga. Penugasanku ke tempat-tempat yang jauh, apalagi jika terkesan mendadak, biasanya akan melibatkanmu—-meskipun agen maupun manajerku tak akan pernah mau bilang terus-terang. “Belum dapat nama fotografernya, lihat nanti di sana saja, ya.”
Aku selalu tahu, bahwa jawaban itu berarti kamu. Dan benar saja, selepas check-in untuk penerbangan lewat tengah malam ke Ambon itu, aku melihatmu sedang merokok di depan sebuah gate yang tutup. Seakan itu tidak cukup, siapa pun yang mengatur perjalanan ini sudah menyusun segalanya dengan rapi. Bahkan di atas pesawat, kita duduk bersisian.
Ini adalah satu di antara momen-momen menyesakkan yang membuatku merasa tidak nyaman. Ketika kamu mengusap kepalaku sebelum aku terlelap di atas pesawat, sesungguhnya kamu hanya membuatku semakin teringat padanya. Mengapa bukan dia yang selalu ada untukku. Mengapa harus kamu? Berada di dekatmu selalu membuatku merasa bersalah, Mas. Ya, karena kamu keberadaan kamu justru membuatku semakin menginginkan dia.
___
Pagi di Ambon basah. Udara bau hujan.
Efek tertidur di pesawat yang hanya beberapa jam saja sudah mulai terasa. Pukul sembilan pagi. Tubuhku ingin tidur kembali, tetapi mataku tak bisa terpejam. Aku mencuri secangkir kopi dari meja sarapan, lalu kubawa naik ke beranda di lantai lima. Langit mendung. Hotel Marina terletak persis di depan pasar. Penduduk lokal membawa keranjang, berbelanja sayuran dan ikan-ikan segar yang ditusuk pada batang bambu.
Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana: hanya duduk dan memandangi. Mendengarkan suara-suara. Membaui udara. Tetapi kemudian, kamu datang—-sama diam-diamnya seperti awan yang meredupkan matahari perlahan-lahan. Kamu menyandarkan tubuhmu pada pagar pembatas, memandang ke kejauhan dalam diam. Aku tahu kamu melihatku, yang sudah duduk di sini lebih dahulu. Tetapi kamu tidak mengatakan apa-apa. Mungkin kamu enggan memecah kesunyian. Atau mungkin kamu juga sibuk dengan pikiran-pikiranmu sendiri.
“Kita jalan-jalan saja, yuk, keliling pasar,” katamu kemudian, tepat ketika aku bangkit berdiri.
Dan begitulah, kita habiskan pagi itu dengan berjalan-jalan di pasar yang becek. Aku selalu bertanya-tanya: ikan apa ini, daun apa ini, jamur apa ini, dan seterusnya. Kamu terpaksa bersabar dengan memotret pepohonan dan ranting-ranting dari halaman gereja, sambil menungguiku yang masih berlutut membaui sagu dan macam-macam penganan yang tak biasa kulihat di Jakarta. Menyusuri trotoar, kita menjepretkan kamera dari gereja ke gereja, terus melewati balai kota, menyusuri gang-gang kecil hingga lelah: kemudian mendamparkan diri pada bangku kayu yang reyot, menikmati bakso kuah yang dijual dalam gerobak dorong.
Aku memotretmu. Kamu memotretku. Kita tertawa. Seakan-akan semuanya sempurna.
Menjelang pukul sebelas, telepon genggammu berbunyi. Kamu harus pergi ke Pantai Natsepa untuk mengecek lokasi pemotretan besok pagi. Mobil sudah menunggumu di depan hotel.
“Ikutlah,” katamu. “Kamu pasti suka di sana. Pantai itu indah. Dipagari pepohonan hijau dan pegunungan. Pasirnya putih. Di depannya berjajar Mama-Mama penjual rujak.”
Aku bilang, aku ingin mandi dulu sebentar. Badanku terasa lengket sehabis berjalan-jalan berkeliling kota. “Kamu nggak apa-apa menunggu, Mas?”
“Tidak perlu, ambil baju renangmu, dan kita berenang saja di laut. Aku jamin, pasti lebih segar dari air PAM.”
Aku tertawa. Dan mendengar bunyi ‘klik’ yang familiar itu. Kamu memotretku.
“Aku senang melihatmu tertawa,” katamu. “Ini pertama kalinya kamu tertawa sejak kita bertemu di bandara tadi malam. Kamu tahu, Jeng, suatu hari nanti, kalau kita tak bisa bertemu lagi, seperti inilah saya ingin mengingatmu: kamu yang tertawa.”
Pagi itu, bukan hanya udara di Ambon yang basah. Mataku juga. Kutengadahkan wajahku ke langit, memicingkan mataku pada sinar matahari yang mencoba menerobos gumpalan awan, menahan tetes-tetes itu agar tak berjatuhan. Saat itu aku sadar, bahwa kamu pun mengerti: betapa kita sesungguhnya hanya menghitung hari, hingga saat-saat yang penghabisan.
Dan sepertinya, kita hanya punya sisa sedikit waktu. Sangat sedikit.
———-
Image: http://vi.sualize.us/view/4f4e134df1257ad959f28d14a87ca7a2/
Its always better to miss someone secretly than to let them know and get no response. There’s always some truth behind ‘just kidding’, a little emotion hidden under every ‘I don’t care’, a little pain concealed in every ‘its okay’, and a little ‘I need you’ in every ‘leave me alone’. - Athar Ali Khan
Ia suka memotretku dengan Hasselblad-nya. Tetapi dari sekian banyak foto-fotonya, tak ada foto yang menunjukkan wajahku. Ada kakiku yang melangkah di terik matahari, jemariku menggengam segerumbul baby breath, rambutku yang tergerai di atas rerumputan, pipiku yang berbintik-bintik cokelat, tato Om Mani Padme Hum dengan aksara tibet di bawah leherku—-tapi tak ada satu foto pun yang menujukkan wajahku.
“Apakah kamu takut?” tanyaku waktu itu.
“Takut apa?” ia balik bertanya sambil membersihkan lensa kameranya dengan lap.
“Bahwa orang-orang akan tahu bahwa kamu memotretku, sehingga kamu tak mau menangkap wajahku?” aku berbisik di telinganya seraya memeluknya dari belakang.
Ia menggeleng dan tertawa. “Aku suka memotret bagian lain tubuhmu. Mereka jauh lebih ekspresif, menurutku. Wajahmu terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. Lensa kameraku tak bisa menembus apa yang ada di baliknya.”
Kamu juga pernah mengatakan hal yang serupa, Mas. Waktu itu, setelah aku meminjamkan kamu buku Kafka on the Shore-nya Murakami, kamu mengutip salah satu baris di buku itu: “Memories are what warm you up from inside. But they’re also what tear you apart.”
“Mengapa kamu mengutip baris itu, Mas?” tanyaku.
“Entahlah, Jeng. Terkadang kalau sedang melihatmu memandang ke kejauhan, aku sering bertanya-tanya apa yang mendesak-desak dari dalam dirimu. Apa yang berpilin-pilin di sana dan tak pernah menemukan jalan keluar.”
“Maksudmu, Mas?”
“Seperti ini,” katamu sambil menyodorkan segelas kopi panas untukku. “Seperti pada saat-saat ketika kita duduk bersebelahan. Begitu dekat, sekaligus begitu jauh. Aku selalu takut bahwa ketika kamu melihatku, kamu sebenarnya tengah menatap masa lalu.”
Aku terdiam. Membiarkan hangat dari segelas kopi panas itu merambati diriku.
“Itulah sebabnya aku tak suka Murakami, Jeng,” katamu kemudian dengan sebuah tawa yang terkesan dipaksakan. “Terlalu muram buatku. Aku jadi terbawa-bawa, bicara yang aneh-aneh.”
Mas, kurasa kenangan memang hal yang mengerikan. Jika ingatan adalah residu dari apa yang sungguh-sungguh pernah terjadi, kenangan adalah perpaduan mematikan dari hal-hal yang sungguh-sungguh pernah terjadi, dan hal-hal sebagaimana kita ingin mengingatnya. Kenangan adalah ingatan bercampur harapan. Dan harapan adalah semacam LSD yang membuat segalanya tampak indah; yang membuat warna-warni menjadi lebih terang.
Ingatanku tentangmu selalu bercampur harapan akan sebuah masa depan yang tertata rapi. Sebuah kepastian. Sebuah nomor yang bisa kutelpon setiap kali kubutuhkan. Seseorang yang akan selalu ada bahkan tanpa diminta. Ingatanku tentangnya selalu bercampur harapan akan hari-hari penuh kejutan. Ledakan-ledakan merah jambu di udara. Penantian yang membuncah menjadi kecupan tak henti-henti ketika mencapai akhir.
Mungkin aku takut, Mas. Aku takut kehilangan cinta yang selalu ada, juga takut kehilangan cinta yang meledak-ledak. Aku selalu bertanya, mengapa aku tidak bisa mendapatkan keduanya dalam diri satu lelaki? Tetapi kurasa cinta memang diciptakan sebagai semacam permainan di atas meja judi. Tak ada pilihan mudah. Ada dua peluang sama besar, dan kita hanya punya kesempatan satu kali melempar.
Dan aku masih menjadi pengecut yang menggenggam daduku erat-erat.
Aku tak ingin memintamu untuk mengerti, Mas. Aku juga tak ingin meminta Mami untuk mengerti. Mami sudah memilih untuk bersama cinta yang selalu ada. Meniadakan ledakan-ledakan bahagia yang bisa dimilikinya untuk sesuatu yang pasti dan tahan lama. Aku tak bisa mengikuti jejaknya, karena buatku cinta yang selalu ada tidak cukup untuk menenangkan desir ribuan sayap kupu-kupu di perutku. Pun, aku tak bisa memilih ledakan-ledakan itu, yang entah bagaimana, suatu hari, mungkin bisa meledakkan hatiku sebegitu kuat dan menghempaskannya menjadi keping-keping yang berserakan.
Mungkin klise, kalau kukatakan, aku ingin menunggu hingga waktu yang menjawabnya. Hingga sesuatu mengarahkan hatiku kepadamu—-atau kepadanya. Aku tak bisa berjanji kapan. Yang aku tahu, aku hanya sedang sungguh-sungguh takut kehilangan.
Seorang temanku baru saja mengalami kecelakaan pesawat, dan selamat. Ia berkata padaku kemudian, bahwa di terminal kedatangan, dengan tangan gemetar karena dirinya masih hidup, ia menatap telepon genggamnya dan menyadari satu hal: tak ada yang bisa ia telepon. Tak ada yang bisa ia telepon.
Ia baru saja berpisah dari kekasihnya saat itu, dan tak ada orang lain yang dekat di hatinya. Ia menyadari, tak ada seseorang yang mendesah gembira di sisi lain telepon karena perempuan yang dicintainya masih diberikan kesempatan hidup satu kali lagi.
Tidakkah menurutmu hal itu menyedihkan, Mas?
Mungkin aku egois karena menginginkan kamu dan dia. Tetapi aku tak pernah memaksamu untuk tinggal, Mas. Sungguh, kamu bisa pergi kapan saja. Aku mengerti jika suatu hari kamu lelah menjadi yang kedua. Dan kamu berhak mendapatkan perempuan yang akan menganggapmu sebagai satu-satunya. Mungkin justru akan lebih mudah bagiku jika kamu pergi. Dengan begitu, aku tak perlu memilih. Kamu telah memilihkan jalan bagiku untuk bersamanya. Akan lebih mudah bagi kita berdua, kan, Mas?
Tetapi kamu tetap tinggal.

Aku tak suka meninggalkan Jakarta. Aku tak suka meninggalkan dia. Dia adalah sosok yang hadir pada saat-saat yang tak tentu. Menunggunya seperti menunggui hujan turun, yang tak bisa diramalkan hanya dengan langit mendung. Pada saat yang tak disangka-sangka, angin bisa meniup awan mendung pergi dan kembali menerbitkan matahari. Justru itu, kehadirannya selalu merupa kejutan. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Karenanya, ketika ia datang, momen itu jadi sangat berharga. Karena aku tak akan pernah tahu kapan momen itu akan datang lagi.
Tetapi aku terlanjur terikat pada janji. Pada selembar kertas yang sudah ditandatangani. Ketika ia datang, aku justru harus menyeret langkah pergi. Meninggalkan seseorang yang sudah kunanti-nanti dalam cemas hampir setiap hari. Dan ia tak pernah menahanku. “Pergilah,” katanya. “Aku pun selalu datang dan pergi secara tiba-tiba. Jadi, jangan cemas. Pada saatnya kita akan bertemu lagi. Seperti selalu. Bukan begitu?”
Sesungguhnya aku ingin ia mencegahku. Mungkin ia akan sedikit marah. Sedikit posesif. Lalu ia akan menarikku masuk ke dalam mobilnya dan membawaku pergi bersamanya. Tetapi ia hanya memindahkan aroma Java Estate di rongga mulutnya ke atas lidahku dan melempar cium jauh ketika aku menyeret koperku melewati gerbang keberangkatan. Ia tak pernah memaksa.
Dan di tempat yang kutuju, ternyata ada kamu, Mas.
Hidup memang sering mencandai kita. Misalnya, pada saat-saat ketika aku ingin menjauh darimu, kamu mengirimkan pesan pendek ke telepon genggamku. Atau saat kamu sedang ingin menemuiku, aku malah sedang bersamanya. Dan kali ini, ketika aku hendak bersamanya, sesuatu menarikku pergi, dan membawaku ke hadapanmu.
Belakangan aku tahu, bahwa pertemuan kita di Lapangan Merah itu bukan kebetulan semata. Segalanya telah diatur sedemikian rupa. Rancangan yang sempurna agar tidak menimbulkan kecurigaan sebelum keberangkatan. Manajerku selalu berpikir bahwa kamu lebih baik untukku, Mas. Denganmu, aku bisa punya hubungan yang matang. Aku akan lebih terkendali dan tidak terlalu sering tiba-tiba menghilang.
Tetapi tentu saja, ketika aku melihatmu melintas di Tverskaya pagi itu, kupikir hidup tengah bermain-main dengan takdir. Mendamparkan kita di depan teater Bolshoi dan St. Basil, lalu menarik kita ke Pecinan Kitai Gorod di timur Kremlin—-dengan jalan-jalannya yang sempit, gereja-gereja cantik dan biara, juga kafe-kafe dan bar. Seperti segala yang bertolak belakang tapi hadir bersamaan.
Dan sesi-sesi pemotretan yang kita lalui bersama seharian itu membuatku sadar bahwa hidupku hanya terdiri dari dua jarum kompas: kamu dan dia. Hatiku, tentu, selalu menunjuk ke Utara. Dan aku, maupun kamu, selalu tahu, bahwa Utara adalah dia. Tetapi Utara tidak akan ada tanpa Selatan, begitu pula sebaliknya. Jadi hidup kita sepertinya akan terus jalin-menjalin seperti benang yang rumit. Kusut.
Tiga mungkin memang angka yang terlalu sesak.
Waktu memaksa kita untuk terus maju. Manusia bisa saja berkutat dalam kenangan, dalam sisa-sisa masa lalu yang masih mengkristal menjadi sebentuk sekarang, tetapi waktu tidak pernah diam menunggu. Dia akan terus berlalu, tak peduli meski kita masih tersaruk-saruk jauh di belakang.
Itu yang pernah dia katakan padaku, Mas. Dia mengajariku untuk menikmati momen. Setiap hari, setiap menit, setiap detik. Setiap sentuhan, setiap pelukan, setiap kecupan. Dia memang bukan pencemas atau pemikir sepertimu, Mas. Dia tak pernah tertebak. Spontan.
“Sudahlah, jangan risau akan esok hari,” katanya selalu. “Jangan pertanyakan masa depan, karena toh kita punya saat ini.”
Aku selalu mengaguminya untuk itu. Kupikir, seseorang yang bisa hidup untuk hari ini saja, pastilah seorang pemberani. Tak ada kecemasan akan apa yang akan terjadi nanti. Tak ada gundah. Tak ada sesal berlama-lama. Hari ini adalah hari ini. Detik ini adalah detik ini. Ia selalu mereguk semua, sepenuhnya.
Mungkin itu juga sebabnya ia melupakan hal-hal terencana. Seperti hari ulang tahunku. Selama bertahun-tahun kami bersama, hanya dua kali ia ingat hari ulang tahunku. Aku sering katakan bahwa ingatan semacam itu memang tidak terlalu penting. Ia sering membawakanku hadiah di hari-hari biasa. Mengejutkanku; karena aku merasa tak ada sesuatu yang perlu dirayakan.
“Hari ini kita bertemu, aku melihatmu, dan bahagia. Jadi ini hadiah untuk itu! Bukankah bersamamu selalu merupakan sebuah perayaan tersendiri?” katanya sambil tertawa ketika ia membawakanku seikat bunga matahari pada suatu hari Selasa yang biasa-biasa.
Memang, ia berbeda denganmu, Mas. Kamu—aku tahu, jauh-jauh hari kamu sudah menandai hari ulang tahunku di kalender, dan sudah berpikir mengenai hadiah apa yang akan kamu berikan padaku dua bulan sebelumnya. Kamu yang akan selalu ada pada momen-momen istimewa: syuting iklan televisiku yang pertama, kontrak dengan salah satu perusahaan kosmetika di Taiwan, pergantian tahun…
Sementara dia, dia hanya hadir ketika dia menginginkannya. Dia manusia bebas, demikian aku selalu berkata di hadapan Mami. Tetapi Mami tidak mengerti. “Bagaimana mungkin kamu bertahan dengan seseorang yang tak selalu ada untukmu?” ia bertanya.
Mami memang selalu menyukaimu, Mas. Seperti pernah kukatakan padamu, kamu mungkin mengingatkannya pada Papi. Seseorang yang bisa diandalkan 24 jam. “Bayangkan kalau mobilmu suatu hari mogok di jalan tol tengah malam, siapa yang akan kamu telepon? Dia—atau Mas?” tanya Mami lagi sambil mengaduk-aduk capcay di atas wajan.
Aku tak suka perbandingan itu. Menurutku, itu tidak adil. Dia adalah dia, dan kamu adalah kamu. Ini bukan kontes mengenai siapa yang bisa selalu memenuhi panggilanku 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ini bukan tentang siapa yang harus kupilih. Kamu bahkan tak pernah memintaku memilih. Kamu hanya mengada seperti udara yang kuhirup. Kamu tak banyak protes.
Perkataan Mami malah membuatku jengah. Mami membuatmu terdengar seperti montir yang selalu siap-sedia dan bisa dipanggil kapan saja untuk membetulkan mobil mogok. Aku tak tahu siapa tepatnya kamu untuk hatiku, Mas. Tapi kurasa, kamu lebih dari itu. Keberadaanmu dan ketiadaannya, keduanya selalu punya tempat di hatiku.
Pada hari ulang tahunku yang kesekian, kita tengah berada di Kanada. Aku ingat, waktu itu, kita menghabiskan pagi hari di Civilization Museum di Ottawa; setelah tengah malamnya kamu membawakanku sekotak es krim yang ditancapi lilin. Kita berjalan menyusuri lorong-lorong museum yang menyimpan waktu dalam kotak-kotak kaca.
“Lima tahun setelah ini, kita ada di mana, ya, Mas?” tanyaku sambil menggamit lenganmu.
“Mungkin di penjuru dunia yang entah mana lagi, Jeng,” jawabmu, tertawa. “Bagaimana kalau kita menjelajah Amerika Selatan?”
“Menarik!” aku tersenyum.
“Menurutmu, lima tahun ke depan kita masih akan tetap bisa jalan-jalan seperti ini, Jeng?”
Aku mengangkat bahu. “Entah, Mas. Aku tidak tahu. Mudah-mudahan masih. Mengapa tidak?”
“Entah, cuma tanya,” katamu sambil tertawa.
Aku memandang wajah kita yang bersisian dan terpantul di kaca pajang itu: kaca yang menyimpan waktu dari jaman yang entah. Mungkin ribuan tahun lamanya. Dan di sinilah kita, berbincang tentang waktu yang kita punya, di sebuah masa depan yang jauh.
Kuraba mafela merah yang melilit leherku. Hadiah darinya pada suatu hari yang tiba-tiba. Dia memang tak ada di sini hari ini. Adalah kamu yang tengah bersamaku. Yang menghangatkan jemariku dengan genggamanmu. Tetapi yang menghangatkan hatiku adalah mafela merah itu.

Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.
Kedatangannya selalu ditandai dengan perjalanan panjang menuju pantai-pantai yang belum pernah kudengar namanya; juga pagi hari yang dihabiskan di atas perahu: dengan keranjang piknik, gitar, sunglasses, sendal jepit, celana pendek, baju tipis, dan Hasselblad-nya. Ia senang memotretku ketika aku melompat dari atas perahu ke air yang dingin sambil berteriak kegirangan. Kemudian ia akan terjun menyusulku, dan kami akan berenang-renang hingga tungkai-tungkai kami terasa pegal.
Di akhir hari, kami akan merapat ke pantai; lalu duduk-duduk di dermaga memandangi matahari terbenam, dengan kulit yang sedikit perih karena air laut; dan coklat terbakar matahari. Dia akan memelukku dan membisikkan nada-nada itu di telingaku. Nada-nada yang semakin lama semakin melambat, dan melambat, dan melambat, sebelum mendarat di bibirku dalam satu kecup yang bermandikan cahaya jingga. Dan dunia mendadak sunyi.
Dia yang membuatku melahap segala sesuatu tentang Hasselblad; tentang Cobain dan Nirvana; tentang semua yang melingkupi dunianya. Dia yang membuatku merasakan semua: cinta pada masa-masa terbahagianya; cinta pada masa-masa tersedihnya. Kisah kami seperti perjalanan roller-coaster yang naik-turun dan penuh dengan kelokan tajam, tapi selalu bisa membuatku memekik riang. Terkadang, kami seperti carousel—penuh dengan kelap-kelip romantisme seperti kisah-kisah dongeng: lampu yang menyala, kereta kencana, cermin-cermin indah, musik yang mengalun…
Segalanya berbeda, Mas. Berbeda dengan apa yang kita miliki. Kamu, misalnya, tak terlalu suka pantai. Kamu lebih suka pegunungan dan perbukitan yang hijau meraya. Mungkin, segala tentang kamu memang selalu sunyi dan menenangkan, Mas. Dingin dan mendung; menyejukkan. Sebaliknya, semua tentang dia selalu penuh kejutan; berwarna, riuh, cerah, hangat.
Bersamamu, aku merasa seperti tengah menaiki bianglala di malam hari. Ya, Ferris wheel yang tenang, terkendali, tidak menyilaukan. Aku selalu bisa menebak kapan kita berputar, kapan kita di bawah, kapan kita di atas; dengan semilir angin membelai wajah kita, membawa wangi lengket harum manis dan berondong jagung karamel.
Kamu memang tak pernah mempermasalahkan dunia lain yang kumiliki di balik cermin. Kamu tak pernah mempertanyakan, apalagi memintaku memilih. Kamu hanya mengada di saat-saat aku membutuhkan seseorang. Begitu saja. Tanpa syarat. Kamu yang menghapus air mataku ketika dia menerbitkannya. Kamu yang ada di sisiku ketika dia tak ada; dan menyingkir ketika dia hadir.
Kamu selalu mengingatkanku pada almarhum Papi, Mas. Kamu persis seperti beliau, yang selalu ada untuk Mami tanpa pernah meminta lebih. Dan aku… aku jadi membenci diriku sendiri, Mas. Mungkin tanpa kusadari, aku sudah menjadi seperti Mami. I’ve taken you for granted.
“Pada akhirnya, kamu akan memilih seseorang yang akan selalu ada untukmu, Jeng. Someone you can count on. Seseorang yang bisa membahagiakanmu,” Mami pernah berkata.
Tapi bukan wajahmu yang terbayang ketika aku tengah berpikir tentang cinta. Justru nada-nada itulah yang mengalun dan melingkupi hatiku dengan ratusan kupu-kupu. Mungkin, saat ini, memang bukan kebahagiaan yang aku cari.
—————
Image: http://vi.sualize.us/view/b675b1c30271689a9c78605445946009/

“Perempuan itu sebaiknya dicintai, bukan mencintai,” demikian kata Mami kepadaku. Waktu itu ulang tahunku yang ketujuh belas. Tidak ada perayaan istimewa. Hanya ada aku dan Mami, serta secangkir teh hangat dan nasi kuning buatannya. “Carilah lelaki yang mencintaimu jauh lebih dalam daripada kau mencintainya, Jeng. Niscaya, hidupmu akan bahagia…”
Aku tidak pernah mempercayai perkataan Mami itu. Pada hari ulang tahunku yang ketujuh belas, bunyi permohonanku adalah: Tuhan, tolong jangan biarkan aku menjadi seperti Mami.
Mungkin Mami bahagia. Mungkin juga tidak. Tetapi aku tahu, Mami tidak pernah mencintai Papi. Sebaliknya, Papi begitu mengagumi Mami. Setiap kali melihatnya, mata Papi akan berbinar-binar. Pada sore-sore yang cerah, Papi akan pulang dari kantor dan orang pertama yang akan dicarinya adalah Mami—bukan aku. Ada bunga-bunga cantik, kado kecil, serta bebek panggang kesukaan Mami yang akan dibawakan Papi dari waktu ke waktu. Di malam hari, Papi suka memeluk Mami yang tengah menyiapkan makan malam dari belakang.
Tapi tak pernah ada binar-binar yang sama di mata Mami. Belakangan aku tahu, Mami tak pernah mencintai Papi. Setidaknya bukan dari jenis cinta yang sama dengan yang kumaksudkan. Mami tentu menganggap Papi sebagai sahabat. Rekanan. Teman terbaik. Orang yang bisa diajaknya menghabiskan sisa hidup bersama. Tetapi ketika kita bicara tentang cinta, hasrat, ledakan merah tua di udara dan letupan rindu yang menyala-nyala, jelas Mami tak memiliki semua ini.
Mungkin hubungan Mami dan Papi adalah pengejawantahan nasihatnya padaku. Mami memilih untuk dicintai, bukan mencintai. “Mencintai lebih banyak melukai, Jeng,” ujar Mami.
Bahkan ketika Papi meninggal lima tahun lalu, Mami hanya menangis sebentar, kemudian menjalani kehidupannya seperti biasa. Tidak ada duka yang berkepanjangan. Tidak ada rasa kehilangan yang membuat Mami gamang. Tak ada binar-binar yang lenyap dari matanya.
“Aku tak ingin mencintai seperti Mami, Mas,” aku berkisah padamu hari itu, ketika kita tengah berjalan menyusuri bukit-bukit cantik di Yangmingshan National Park, tak jauh dari pusat kota Taipei. Sebelumnya, kamu tengah begitu bersemangat berkisah mengenai Chiang Kai Sek. “Setelah Papi meninggal, aku keluar dari rumah untuk mencari jalanku sendiri. Untuk bisa mencintai dengan caraku sendiri. Aku tak percaya akan cinta satu arah. Rumah hanya membuatku teringat Papi dan cintanya pada Mami. Dan semua ingatan itu membuatku bersalah pada almarhum Papi… mungkin aku tak bisa memaafkan Mami untuk hal yang satu ini: untuk tidak membalas cinta Papi kepadanya.”
“Jangan terlalu keras pada Mami, Jeng,” katamu, sementara kaki kita melangkah menyusuri hutan kecil ke pondok tetirah Chiang Kai Sek. “Setiap orang akan memilih caranya sendiri untuk mencintai, dan pada dasarnya setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan itu bentuknya bisa bermacam-macam, Jeng. Tetapi apapun bentuknya, ia selalu datang bersama konsekuensi. Tak ada yang namanya kebahagiaan sempurna, Jeng.”
“Mas, mas, tolong fotoin kamar itu dong,” ujarku, mengalihkan pembicaraan sembari menyeretmu kesana kemari. “Terus meja itu dong, Mas. Abis itu, lemari kayu di pojok itu ya… eh, eh… isinya juga dong.”
“Huh, riwil!” kamu bersungut-sungut. Tapi kamu arahkan juga Hasselblad-mu untuk mengabadikan semua objek yang kutunjuk.
Aku tak bercerita padamu, bahwa Mami sempat menyinggung kamu. “Mas-mu itu baik. Dia jenis lelaki yang akan membahagiakanmu. Dia mencintaimu, Jeng.”
Hari ini aku memandangmu yang sedang sibuk memotret. Bajumu sedikit basah karena kita sempat terdera hujan barusan. Grass Mountain, begitu dulu mereka menyebut tempat ini. Daerah pegunungan yang menenangkan, dengan sumber air panas dan bebungaan: rhododendron, azalea, juga sakura.
Mungkin itulah kamu, Mas. Kamu adalah Yangmingshan National Park. Pegunungan yang tenang, tempat aku bisa melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kamu adalah serupa sumber air panas, tempatku bisa mengusir penat dan menghangatkan diri dari terpaan dingin dan lelah yang melanda setiap saat.
Tetapi dia… bagiku, dia adalah Taipei, Mas. Dia adalah pusat dari segala pusaran hati. Tempat di mana segalanya bersinar dan berdenyut. Dia selalu bisa membuat jantungku berdegup lebih kencang. Dia adalah binar-binar di mataku yang terpantul pada bening matanya. Dia adalah suara-suara yang tanpanya aku merasa terlalu hening.
Mungkin dia memang bukan seseorang yang selalu ada. Tak seperti kamu, ia bahkan tak ingat hari ulang tahunku atau bunga kesukaanku. Tetapi kami punya waktu sendiri, Mas. Dan cara sendiri untuk mencintai. Jika sesekali aku dibuatnya sakit hati, kurasa itu adalah konsekuensi. Ya, konsekuensi mencintai, sebagaimana sempat kau katakan tadi.
Ini sama saja seperti jutaan orang yang mengutuki Jakarta dengan segala kebusukannya, tetapi mau tak mau selalu saja kembali dan kembali lagi; kemudian enggan pergi-pergi lagi.
Lalu kata-kata Angela Foligno terngiang dalam benakku ketika kau mengarahkan kameramu untuk menangkap siluetku hari itu:
Because of love, and in it, the soul first grows tender, then it pines and grows weak, and afterward finds strength…
———
Image: http://vi.sualize.us/view/c84c8bc5d940ca48bc737523ff95abac/

Waktu itu musim penghujan di awal tahun. Kita bertemu untuk yang pertama kali pada sebuah dini hari. Aku basah dan setengah mabuk. Maskara dan eyeliner-ku sudah meluntur, membentuk kontur-kontur hitam di sekeliling mataku yang sembap. Dua cangkir kosong yang tadinya terisi capucinno hangat tetap tak mampu mengusir dingin itu pergi; meski bajuku sudah kering.
Lalu kamu datang. “Maaf kalau saya lancang, tetapi meja dan sofa lain di sini penuh. Kalau Anda sendirian, boleh saya duduk di sofa ini dan kita berbagi meja?”
Kamu mengenakan jins yang sudah belel dan kemeja batik. Sepatu Converse-mu sudah tak jelas warnanya. Kata “serasi” jelas tak berdampingan dengan namamu di dalam kamus bergambar. Sebuah tas besar yang kelihatannya berat tersampir di pundakmu. Pemandangan semacam kamu terlihat asing di mataku. Satu-satunya yang familiar dari dirimu adalah kamera yang tergantung di lehermu. Hasselblad.
Saat itulah aku tahu, bahwa kamu berbeda.
“Duduk saja, Mas,” aku mengangguk, kemudian menguap menahan kantuk. “Nggak setiap malam ketemu orang yang bawa Hasselblad. Seri apa ya, itu?”
Kamu tersenyum, sedikit terkejut. “H3DII-50,” katamu seraya duduk di hadapanku. Malam itu kamu memesan iced caramel macchiato. “Anda fotografer?”
Aku tertawa. “Biasanya justru jadi yang difoto, Mas,” jawabku. “Hasselblad sudah sering dibawa ke luar angkasa. Ikut Apollo 8, Apollo 11, Apollo 15—bahkan waktu ikut Apollo 11, kamera itu digunakan di permukaan bulan…”
Dan tangisku pecah.
Kamu bergeser di sofamu, jelas merasa tidak nyaman. “Anda baik-baik saja, Jeng?” tanyamu hati-hati.
Aku menggeleng.
Kamu duduk saja di sana malam itu. Melakukan entah apa di komputer portabelmu. Kamu hanya menemaniku menangis sampai dadaku mau pecah, dan mengambilkan segenggam tisu lagi dari dekat konter ketika tisu yang kugunakan untuk menghapus air mata dan mengelap ingus sudah nyaris hancur. Ketika tangisku mereda, kamu meletakkan iced green tea latte di hadapanku.
“Minum dulu, Jeng…”
Aku menyesap green tea latte itu pelan-pelan.
“Mungkin lebih baik Jeng pulang dulu. Supaya tenang. Jika Jeng berkenan, saya bisa mengantar,” kamu menawarkan.
“Pulang ke apartemen yang kosong itu buat apa, coba, Mas?” jawabku. Kulayangkan pandanganku ke luar jendela yang basah. Tetes-tetes air nampak bercahaya tertimpa sinar lampu dari mobil-mobil yang lewat. Gerimis masih berjatuhan satu per satu, seperti jarum-jarum kecil yang hening menikam tanah.
Kamu diam dan menundukkan kepala, kembali memfokuskan diri pada komputermu. Mungkin kamu merasa aneh dan tidak pada tempatnya. Mungkin kamu menyesal karena telah berbagi meja denganku.
Kita diam saja seperti itu selama beberapa saat.
“Bagaimana kalau kita cari makanan sungguhan?” kamu mengepak barang-barangmu dan memandang ke luar jendela. “Ada nasi goreng kambing yang enak di dekat sini, dan buka sampai pagi.”
Beberapa saat kemudian, kita sudah duduk berdampingan di warung tenda yang menjual nasi goreng kambing itu. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Pergi dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Tetapi bagaimana mungkin kamu tidak mengenalku? Kamu satu-satunya orang yang pernah melihatku menangis.
Sambil menyantap nasi goreng kambing yang masih hangat, kita mengobrol sekilas tentang pekerjaan masing-masing dalam suasana yang masih agak canggung. Kamu, jelas, fotografer. Terkadang memotret untuk koranmu (“Untuk ini aku pakai Canon, Jeng, disediakan kantor,” kamu menambahkan), terkadang mengejar hobimu memotret produk, lansekap, dan seni dengan Hasselblad-mu itu. Aku bilang, aku desainer interior. Terkadang juga mendesain kartu undangan atau membantu teman menata visual etalase di mall.
Kamu bertanya ada apa antara aku dan Hasselblad. Aku bilang, ada masanya ketika aku tergila-gila pada segala sesuatu yang berhubungan dengan kamera itu. Kupikir, untuk saat ini, itu saja yang perlu kamu ketahui. Lalu kutenggak teh tawar hangat yang disajikan. Masih belum juga mengusir sisa-sisa alkohol itu pergi.
Menjelang terbit matahari, kamu mengantarku pulang. Kita diam saja selama perjalanan itu. Hanya ditemani lagu-lagu Edith Piaf yang mengalun dari tape mobilmu. Tepat sebelum berbelok memasuki kompleks apartemenku, kamu menginjak rem. Lalu kamu majukan mobilmu sedikit, hingga berada tepat di bawah lampu jalan. Kamu menatap wajahku. Lalu mengalihkan pandanganmu ke sebuah billboard besar di pinggir jalan, menampilkan edisi terbaru sebuah majalah fashion. Lalu kamu menatapku lagi.
“Yang di foto itu… kamu, Jeng?”
Kamu tahu, Mas? Sejak kita berpisah, aku semakin sering menerima tawaran pemotretan, baik untuk halaman fashion majalah atau untuk iklan.
“Kok kamu rajin lagi? Dulu katanya mau berhenti?” tanya kawanku yang bekerja sebagai editor fashion di sebuah majalan.
Aku tak pernah bilang bahwa ini semua untuk kamu, Mas. Aku ingin ada di mana-mana untuk kamu. Sehingga kamu bisa melihatku di billboard lain lagi sewaktu tengah menyetir malam hari. Waktu tengah jalan-jalan di mall. Duduk termenung di sudut sebuah kedai kopi. Atau tengah iseng membolak-balik majalah lifestyle di ruang tunggu.
Aku hanya tidak ingin kamu melupakanku, Mas.
———-
Image: http://vi.sualize.us/view/d6d16180566c5cc2f647aa0bebd6c91e/

Pukul dua dini hari. Kedai kopi di bilangan Thamrin yang buka 24 jam itu masih saja ramai. Orang-orang datang berpasang-pasangan. Mereka memekik, tertawa—kadang berlebihan, mengobrol, bertengkar. Apapun sepertinya lebih baik daripada sendirian, pikirku.
Enam bab Murakami, dua gelas kopi dingin, dan sebungkus rokok menthol kemudian, sosokmu yang cuek dan berantakan tak juga terlihat melangkah melewati pintu depan. Ini sudah malam Sabtu yang keseratus delapan puluh sembilan. Mungkin memang aku yang terlalu melankolis. Atau bodoh. Batas di antara keduanya memang terlalu tipis untuk dibedakan.
Tetapi di sinilah untuk pertama kalinya kita bertemu. Dan sejak saat itu, kita sering melarikan diri ke sini pada sekian dini hari yang risau. Menghabiskan gelap sampai matahari terbit, lalu menggelandang dengan perut lapar, mencari sarapan di pinggir jalan.
Aku terlanjur menganggap tempat ini rumah. Lalu entah bagaimana, meyakini bahwa sejauh apapun kamu pergi, suatu hari nanti kamu akan kangen riuh-rendah ini: musik jazz, bau kopi yang baru digiling, deru mesin, denting sendok dan piring…
… dan aku.
Aku selalu percaya bahwa pada akhirnya, kamu akan pulang ke sini. Dan kita akan bertemu lagi di sofa merah di sudut itu. Jauh dari pintu masuk dan konter yang sibuk. Dan ketika kita bertemu lagi, lalu apa?
Entah.
Karena bahkan pada sekian dini hari yang kita lewati di sini, kita lebih banyak diam. Kamu akan sibuk bekerja, mengedit foto-foto di komputer portabelmu; sementara aku membolak-balik majalah, membuat desain, atau membaca buku. Sesekali, udara bergerak pelan, dan kita akan mengangkat wajah. Menatap satu sama lain. Tersenyum. Lalu merasa hangat.
Suatu hari, kamu memecah kesunyian itu. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputermu, tiba-tiba saja kamu berkata,”I love you.”
Jemariku membeku di udara, urung membalikkan halaman majalah yang tengah kubaca. Mungkin inilah persisnya mengapa kita lebih memilih untuk menemani satu sama lain dalam diam. Atau bicara hal-hal yang perlu saja. Hal-hal di luar kita. Kita bisa bicara tentang pekerjaanmu, pekerjaanku, serial di televisi kabel, cuaca, liburan, jalan-jalan. Apa saja. Tetapi bukan tentang ini. Bukan tentang kita.
Aku melepaskan kacamata bacaku dan meletakkannya di atas meja. “I love you itu buatmu artinya apa, Mas?” tanyaku sambil menutup layar komputer portabelmu, perlahan; sehingga mata bertemu dengan mata.
“Kenapa kamu selalu mempertanyakan hal yang aneh-aneh?” kamu tertawa, menghindari pandanganku, kemudian menyesap kopimu yang sudah lama dingin. Es di dalamnya telah lama mencair. Macchiato itu pasti sudah terasa hambar sekarang. “I love you ya artinya I love you. Kok repot?”
“Kalau aku minta kamu untuk menggantikan I love you itu dengan kalimat lain, tetapi kalimat lain itu tetap menggambarkan perasaanmu padaku ketika kamu mengatakan I love you barusan, apa yang akan kamu katakan?”
“Nah, kan. Apa kubilang. Jadi complicated. Kamu ini riwil. Rumit. Yang sederhana dibikin sulit.”
“Jawab saja, Mas. Jangan ngeluh terus.”
Kamu mendengus. “Ya sudah. Artinya aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”
“Oh, gitu…” aku mengangguk dan kembali menunduk memandangi halaman majalahku. Ada Kate Winslett dan gaun biru Valentino-nya di sana, berpose pada pembukaan Palm Springs International Film Festival. Tapi yang kulihat malah masa depan. Seperti ada kita di halaman itu, pada suatu hari yang jauh. Warna langit di atas kita bukan biru, tapi ungu kelabu. Suram.
“Giliranmu, Jeng.”
“Apa?”
“Apa arti I love you buatmu?”
Aku terbahak. “Yang ngomong I love you kan kamu, Mas. Bukan aku.”
Kamu melempar sebuah bantal kursi ke arahku. “Aku serius.”
“Aku juga serius, Mas. Aku kan belum bilang I love you sama kamu, jadi belum bisa bilang artinya apa,” aku masih terkikik.
“Lalu… kita ini apa?” kamu bertanya. Dan udara beku selama sepersekian detik.
Jujur, aku tak tahu harus menjawab apa.
Aku tak pernah terlalu banyak berpikir tentang kita. Buatku, kita adalah sebuah dunia di sisi lain cermin. Dunia di mana aku bisa jadi diriku sendiri, dan kamu menjadi dirimu sendiri. Kita berbagi mimpi yang tak bisa kita bagi pada orang lain. Kita berbagi sunyi tapi saling menemani. Mengapa pula segala sesuatu harus diberi nama? Bukankah pohon liar yang tumbuh rindang di dalam hutan bisa tetap meneduhkan walau kita tak pernah tahu apa namanya?
“Kita, ya… kita,” jawabku akhirnya. “Seperti ini. Menggelandang setiap Sabtu malam. Minum kopi. Merokok. Bekerja. Ngobrol sedikit. SMS-an bertukar kabar. Berburu sarapan. Nonton DVD film-film festival semalaman. Memangnya segala sesuatu itu harus didefinisikan, ya, Mas? Bukankah kita sudah nyaman seperti ini, dan menjadi kita?”
“Apa iya?” kamu mencabut kabel kameramu, menutup layar komputermu dan menarik lepas charger-nya dari stop kontak. “Mungkin memang sebaiknya kita nggak usah bertemu lagi.”
“Kenapa kamu jadi sensitif sih, Mas?” aku mengeluh, menutup majalahku dan melemparkannya ke atas meja.
“Karena aku cinta kamu,” ujarmu sambil menyambar kunci mobilmu dari atas meja, siap beranjak.
Aku menunduk memandangi ujung sepatu Rubi-ku. Segalanya nampak buram dalam lingkaran-lingkaran cahaya yang terlalu terang. Entah mengapa aku tak bisa menatapmu. Mungkin aku takut kamu akan membaca mataku yang basah.
“Dari awal kamu tahu aku nggak sendiri, Mas,” gumamku pelan.
“Tapi aku nggak pernah memintamu untuk memilih, Jeng,” katamu seraya melangkah pergi.
Punggungmu menjauh. Kamu tidak menoleh lagi hingga sosokmu hilang ditelan kegelapan malam.
Aku pikir, itulah kali terakhir aku akan melihatmu.
Tetapi Sabtu malam berikutnya, kamu tiba pada dini hari menjelang pukul tiga. Menenteng kamera dan komputer portabelmu, lalu meletakkan sekeping DVD Nirvana Live at Reading yang diikat pita merah tua di atas meja. Tepat di samping cangkir kopiku yang ketiga.
Kita bertukar senyum, lalu menghabiskan sisa malam itu dalam diam. Diam yang menenangkan.
Sejak saat itu, pada setiap pertemuan kita berikutnya, kamu tak pernah lagi mengatakan I love you; atau menuntutku memberi nama pada apa yang kita punya. Aku lega. Sekaligus kangen.
Kalau boleh jujur, sesungguhnya aku ingin mendengarmu mengatakannya sekali lagi. Tetapi kamu bahkan tak mengucapkan I love you ketika kita berpisah di Melbourne beberapa tahun yang lalu. Di bawah remang lampu Pondok Captain Cook di Fitzroy Gardens, aku menyadari bahwa ini adalah kebersamaan kita yang terakhir kali. Bahwa setelah ini, kita tak akan pernah bertemu lagi.
“Kamu lupa, Mas. Tidak akan pernah ada lagi kita. Aku dan kamu telah memilih jalan yang berbeda. But still, I love you forever,” ujarku saat itu.
“Love me forever is overrated. Give me something timeless,” katamu.
Itu saja.
Ekspresi wajahmu sama datarnya seperti ekspresi Captain Cook dan keluarganya dalam potret-potret tua yang terpasang di dinding. Kamu bahkan tidak bertanya apa arti I love you dalam perkataanku tadi.
Diam-diam, aku setengah berharap bahwa saat itu bukanlah saat kita yang terakhir. Bahwa kamu akan kembali. Bahwa kita tidak sungguh-sungguh akan berpisah. Mungkin kamu akan mengirimkan SMS beberapa bulan kemudian. Mengisi iTunes-ku dengan lagu-lagu jazz favoritmu lewat surat elektronik. Muncul di hadapanku dengan segelas hot caramel macchiato ukuran grande.
Tetapi kamu tidak kembali. Aku tidak pernah mendengar kabarmu lagi, kecuali dari kicauan Twitter-mu yang sekali-sekali itu. Dan menunggu setiap kicauanmu itu rasanya lama sekali. Kicau yang tak pernah cukup mengkompensasi ketidakhadiranmu di sini.
Karena itulah, aku bertahan selama seratus delapan puluh sembilan Sabtu malam.
Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti, tiba-tiba kamu kangen aku. Lalu memutuskan mampir ke sini menjelang dini hari. Setelah itu, mungkin kita hanya akan duduk diam lagi. Menyesap kopi. Membaca buku. Membakar rokok. Mendengarkan musik. Kembali menekuni pekerjaan masing-masing. Mencuri pandang dan bertukar senyum sesekali. Menahan waktu di kedai kopi ini agar terjaga hingga pagi.
Memang, tanpamu, aku juga masih bisa menjalani semua rutinitas itu. Sendirian. Persis seperti malam ini. Tetapi, kalau ada kamu, rasanya lain.
———————-
Kita tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang bersama. Tentu saja tidak. Aku hanya kamu temui secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan seharian itu berdua saja. Tidak, tentu kamu akan memilih untuk berada di sisi perempuan itu. Aku memang selalu menjadi prioritas kedua.
Ada saat-saat dalam hidupku ketika aku meyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa aku tidak akan selamanya menjadi yang kedua. Bahwa kamu, suatu hari, akan memutuskan untuk memilihku dan menjadikanku satu-satunya. Ada masanya ketika aku meyakini bahwa menjadi prioritas kedua adalah sesuatu yang harus kuterima dengan lapang dada. Ini demi kamu. Demi kita. Yang perlu kulakukan hanya bersabar dan tetap berada di sisimu.
Tetapi tahun demi tahun berlalu, dan aku tidak lagi mempercayai hal-hal yang dahulu kuyakini sepenuh hati. Kesendirian atau kebersamaan tidak menggangguku. Tetapi kenyataan bahwa aku tak pernah tahu apakah sesungguhnya aku sendiri atau bersamamu adalah sebuah kutukan yang menghantui hari-hariku. Ketidaktahuan apakah aku adalah milikmu atau apakah kamu adalah milikku, menjadikan dunia buram di mataku. Aku terantuk, tersandung, terjatuh, tanpa pernah tahu di mana aku sesungguhnya berada: di relung atau palung hatimu?
Dan waktu berjalan. Ribuan hari terlewati. Kemudian di penghujung malam, aku hanya punya kenangan. Kenangan yang sudah usang, sehingga begitu rapuh untuk disentuh. Jika aku mencoba merabanya, semua hanya akan meluruh menjadi serpih-serpih yang tak akan lagi bisa kusulam utuh.
Aku bosan dengan mendung di langitku. Aku menginginkan matahari. Aku kedinginan karena hujan, dan mengharapkan musim panas. Aku tak lagi nyaman dengan langit yang melulu ungu dan kelabu. Aku ingin harum manis merah jambu dan balon-balon berwarna lucu. Menangis tidak lagi romantis. Aku ingin berbagi tawa dan tersenyum kepada dunia.
Jadi, ijinkan aku untuk jatuh cinta dengan yang lain selain kamu.
Dengan seseorang yang akan membuatku tertawa, bukan menitikkan air mata. Dengan seseorang yang akan menggenggam tanganku dan berkata bahwa ia menginginkanku kepada dunia, bukan menyembunyikannya. Dengan seseorang yang akan berbisik di telingaku bahwa aku adalah satu-satunya, dan sungguh-sungguh memaksudkannya.
Mungkin, bersamamu, aku sudah lupa apa artinya cinta. Kamu terlanjur membuatku percaya bahwa cinta adalah penerimaan diri ketika dijadikan orang ketiga. Dan aku bodoh karena meyakininya. Hari ini, aku menyadari betapa aku sudah terlalu lama menyakiti diriku sendiri; demi kita. Kita yang mungkin bagimu tidak pernah ada.
Aku juga ingin berbahagia.
Seperti kamu, dan dia.
Dan jika bahagia berarti melepasmu; jika itu berarti melewati hari-hariku tanpamu, tak mengapa. Karena yang kuinginkan saat ini adalah melindungi jiwaku, dan memastikan bahwa hatiku masih punya kapasitas yang cukup untuk mencinta.
Aku melepaskanmu.
Aku menyadari hal itu ketika pada suatu pagi yang basah dan diguyur hujan lebat, bayanganmu melekat di kaca jendela yang tengah kupandangi. Melesak ke dalam benakku dan membuat huru-hara di sana; tetapi hatiku tidak bersuara. Ini aneh. Karena biasanya ketika kamu menampakkan wujudmu dalam setiap benda-benda transparan yang kulewati, aku akan menghabiskan sisa hari dengan melamunkan kamu dan mengasihani diri sendiri, seperti yang selalu terjadi selama ribuan hari belakangan ini.
Dengan gundah, aku pun mulai membongkar kembali lembaran buku-buku harianku, dan kembali ke masa lalu. Tidak ada rasa dingin itu, yang menjalari jari-jemariku setiap kali aku menelusuri namamu di atas halaman-halaman itu. Aku seperti mati rasa, dan yang terlintas dalam pikiranku hanyalah betapa buku-buku harianku selalu terlalu cepat habis karena aku terlalu banyak menulis tentang kamu.
Foto-fotomu terselip dalam setumpuk kenangan lama yang kuabadikan dalam sebuah kotak kayu berwarna coklat–bersama sosok-sosok lain yang pernah singgah dan tersingkir seiring berlalunya waktu. Teronggok di samping buku-buku harianku, kotak itu membukakan pintu bagiku untuk melihat kamu lagi. Kamu ketika dulu, yang pernah membuatku merasa begitu istimewa. Tetapi hari itu, pandanganku pada siluetmu tidak lagi meledakkan utopia tentang aku dan kamu di masa depan.
Ini ganjil. Karena biasanya semua ritual menyedihkan itu akan membuat hatiku berantakan dan ribut sendiri.
Tapi kali ini aku melewatinya seperti rasa cukup yang menerpa ketika aku mulai terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang benar-benar aku sukai. Ketika frekuensi santapan itu telah mengintens menjadi sekali seminggu, tiba-tiba saja kenikmatannya menjadi tidak terasa lagi.
Meraih telepon genggam yang berkedip-kedip, kusadari bahwa sebaris peringatan telah lama berpendar di sana. Inbox-ku sudah terlalu penuh. Tanpa rasa sayang dan pikir panjang, tiba-tiba saja aku sudah menghapus semua sms-mu yang selama ini sengaja kusimpan, untuk diintip kembali tiap kali aku merasa bosan.
Kali ini tidak ada sesal.
Sudah terlalu banyak sampah yang berlama-lama kutumpuk di dalam telepon genggamku. Membuang sampah-sampah itu seperti memberi kebebasan bagi si telepon genggam untuk bernapas lega. Ia menjadi sehat dan hidup kembali, sehingga mampu mengantarkan pesan-pesan baru dengan kecepatan yang luar biasa.
Tengok ponselku sekarang. Dan namamu tak ada lagi di urutan paling depan maupun paling belakang. Kehadiranmu tak akan terlacak dalam jajaran inbox, outbox, maupun draft.
Dalam satu lompatan waktu yang sudah terlalu genting, aku berdiri di depan setumpuk kenangan itu. Sekarang, atau tidak sama sekali. Melompat pergi, atau bersiap-siap jatuh lagi. Kupandangi masa lalu itu untuk yang terakhir kali. Menggigit bibir bawah berulang kali dan menabah-nabahkan diri.
Kemudian aku berbalik pergi. Meninggalkan semuanya. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya secangkir kopi, sepotong bakpao ayam, serta buku The Melancholy Death of The Oyster Boy-nya Tim Burton. Aku pun terjaga sampai pukul 4 dini hari. Mendengarkan gemericik hujan yang tidak berhenti-berhenti.
Aku jatuh tertidur, dan membuka mata menjelang pukul 5 pagi. Menatap nyalang langit-langit kamar dan mematikan weker yang baru satu menit lagi akan berbunyi. Hujan masih belum berhenti.
Dan aku masih memutuskan untuk tidak kembali.
Karena penyesalan-penyesalan yang dulu pernah ada, sekarang bukan lagi milikku. Aku melepaskanmu. Karena telah tiba saatnya, ketika semua kebahagiaan yang aku rasakan bukan lagi tentang kamu.