January 2012
1 post
FEB 8, 2011: Pagi yang Basah.
Ini bukan yang pertama kali.
Sejak kejadian di Lapangan Merah itu, aku mulai terbiasa curiga. Penugasanku ke tempat-tempat yang jauh, apalagi jika terkesan mendadak, biasanya akan melibatkanmu—-meskipun agen maupun manajerku tak akan pernah mau bilang terus-terang. “Belum dapat nama fotografernya, lihat nanti di sana saja, ya.”
Aku selalu tahu, bahwa jawaban itu berarti kamu....
June 2011
2 posts
FEB 7, 2011: Kenangan
Its always better to miss someone secretly than to let them know and get no response. There’s always some truth behind ‘just kidding’, a little emotion hidden under every ‘I don’t care’, a little pain concealed in every ‘its okay’, and a little ‘I need you’ in every ‘leave me alone’. - Athar Ali Khan
Ia suka...
FEB 6, 2011: Persimpangan
Aku tak suka meninggalkan Jakarta. Aku tak suka meninggalkan dia. Dia adalah sosok yang hadir pada saat-saat yang tak tentu. Menunggunya seperti menunggui hujan turun, yang tak bisa diramalkan hanya dengan langit mendung. Pada saat yang tak disangka-sangka, angin bisa meniup awan mendung pergi dan kembali menerbitkan matahari. Justru itu, kehadirannya selalu merupa kejutan. Sesuatu yang tak...
February 2011
1 post
FEB 5, 2011: Perihal Waktu
Waktu memaksa kita untuk terus maju. Manusia bisa saja berkutat dalam kenangan, dalam sisa-sisa masa lalu yang masih mengkristal menjadi sebentuk sekarang, tetapi waktu tidak pernah diam menunggu. Dia akan terus berlalu, tak peduli meski kita masih tersaruk-saruk jauh di belakang.
Itu yang pernah dia katakan padaku, Mas. Dia mengajariku untuk menikmati momen. Setiap hari, setiap menit, setiap...
January 2011
4 posts
FEB 4, 2011: Nada
Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.
...
FEB 3, 2011: Memeluk Hujan
“Perempuan itu sebaiknya dicintai, bukan mencintai,” demikian kata Mami kepadaku. Waktu itu ulang tahunku yang ketujuh belas. Tidak ada perayaan istimewa. Hanya ada aku dan Mami, serta secangkir teh hangat dan nasi kuning buatannya. “Carilah lelaki yang mencintaimu jauh lebih dalam daripada kau mencintainya, Jeng. Niscaya, hidupmu akan bahagia…”
Aku tidak pernah...
1 tag
FEB 2, 2011: Di Balik Lensa
Waktu itu musim penghujan di awal tahun. Kita bertemu untuk yang pertama kali pada sebuah dini hari. Aku basah dan setengah mabuk. Maskara dan eyeliner-ku sudah meluntur, membentuk kontur-kontur hitam di sekeliling mataku yang sembap. Dua cangkir kosong yang tadinya terisi capucinno hangat tetap tak mampu mengusir dingin itu pergi; meski bajuku sudah kering.
Lalu kamu datang. “Maaf kalau...
6 tags
FEB 1, 2011: Menghitung Malam
Pukul dua dini hari. Kedai kopi di bilangan Thamrin yang buka 24 jam itu masih saja ramai. Orang-orang datang berpasang-pasangan. Mereka memekik, tertawa—kadang berlebihan, mengobrol, bertengkar. Apapun sepertinya lebih baik daripada sendirian, pikirku.
Enam bab Murakami, dua gelas kopi dingin, dan sebungkus rokok menthol kemudian, sosokmu yang cuek dan berantakan tak juga terlihat...
February 2010
1 post
FEB 14, 2010: VALENTINE
Kita tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang bersama. Tentu saja tidak. Aku hanya kamu temui secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan seharian itu berdua saja. Tidak, tentu kamu akan memilih untuk berada di sisi perempuan itu. Aku memang selalu menjadi prioritas kedua.
Ada saat-saat dalam hidupku ketika aku meyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa aku tidak akan...
January 2010
13 posts
Feb 13, 2010: Lepas
Aku melepaskanmu.
Aku menyadari hal itu ketika pada suatu pagi yang basah dan diguyur hujan lebat, bayanganmu melekat di kaca jendela yang tengah kupandangi. Melesak ke dalam benakku dan membuat huru-hara di sana; tetapi hatiku tidak bersuara. Ini aneh. Karena biasanya ketika kamu menampakkan wujudmu dalam setiap benda-benda transparan yang kulewati, aku akan menghabiskan sisa hari dengan...
Feb 12, 2010: Pudar
One’s fairy tale is always somebody else’s nightmare.
Ketika seseorang diam-diam menyimpan rasa, ada seseorang yang tengah berupaya menepiskannya. Ketika sekeping cinta dilepaskan ke udara, ada seseorang yang berlari untuk menangkap jatuhnya, sementara seorang lagi bersembunyi agar tak terkena serpihannya. Setiap kali ada orang yang jatuh cinta, pada saat itu pula selalu ada orang...
Feb 11, 2010: Bahagia
Malam tadi, aku bermimpi.
Dini Hari datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku. “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” katanya.
Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkan Dini Hari kepadaku.
“Entahlah,” Dini Hari mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”
Aku...
Feb 10, 2010: Esok
Tidak, tentu saja kita tidak bisa kembali menjadi teman. Ingin sekali rasanya kutuliskan kata-kata ini untuk membalas surat yang kau kirimkan.
Kamu pernah memiliki waktu yang tak terhingga, dulu. Untuk duduk bersamaku, menikmati kopi dan teh di kala hujan, menonton DVD film-film pemenang festival sambil berbagi sepiring aglio olio di atas tempat tidur, atau hanya untuk diam memandangi langit yang...
Feb 9, 2010: Draft
Date: Feb 9, 2010
TO: Lelakiku
SUBJECT: Re: Tentang Maaf
Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu.
Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu. Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu....
Feb 8, 2010: SURAT
Date: Feb 8, 2010
TO: Perempuanku
SUBJECT: Tentang Maaf
Perempuanku,
Berapa banyak lagi waktu yang kita punya?
Ah, kita memang tidak akan pernah tahu. Mungkin selamanya, mungkin sebentar, mungkin hanya hari ini saja. Tetapi bukankah, seperti sering kau katakan, selamanya tak selalu berakhir bahagia. Sebentar bisa menitipkan makna yang masih terasa bahkan setelah beberapa lama. Dan hari ini...
Feb 7, 2010: Green Tea
He taught himself how not to lose By never really trying to win That’s how the man in front of you became The boy who never
Apakah kamu masih berada di HongKong? Untuk berapa lama? Masihkah kamu bersamanya? Pagi itu, dunia berwarna ungu kelabu. Hujan masih belum berhenti sejak dini hari. Membawa dingin sampai ke dalam hati. Hati yang sendiri. Kemacetan membuat taksi yang kutumpangi harus...
Feb 6, 2010: Dulu
Untuk menjatuhkan cinta kepada lebih dari satu orang, kau harus memiliki jiwa yang cukup besar untuk menampung dua hati. Ini perlu, agar keduanya tidak bersesakan di dalam jiwamu. Agar mereka tak perlu berusaha untuk merebut sebanyaknya ruang yang ada, mendesak-desak, lalu berontak dan merobek lapisan hatimu hingga isinya luluh-lantak. Jika jiwamu tidak cukup besar untuk menampung dua hati, kamu...
Feb 5, 2010: Pulang
HongKong International Airport, pagi hari. Penerbangan pertama menuju Jakarta. Satu jam lagi, dan pesawat ini akan membawaku pergi. Meninggalkanmu untuk yang kesekian kali. Inilah salah satu di antara ratusan episode perpisahan yang kulalui seorang diri. Koper merah mungilku tergeletak di atas pangkuan, berat disesaki sekian kenangan tentangmu. Tidak ada gunanya berlama-lama di sini. Mungkin...
Feb 4, 2010: Lukisan
Perpisahan, sedianya melibatkan dua orang: ia yang tinggal, dan ia yang pergi. Seperti pagi itu, ketika kamu memutuskan untuk memilihnya dan meninggalkanku. Jadi bayangkan, betapa sepinya perpisahan yang harus dilalui seorang diri. Seperti berkali-kali; seperti setiap hari, ketika aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kepada kenangan. Kepada kita. Kepada rasa yang pernah kita punya; hanya...
Feb 3, 2010: Mimpi
Cangkir kopiku yang ketiga. Dan satu-satunya hal yang berkecamuk dalam benakku hanyalah: untuk apa aku di sini? Mendamparkan diri di kafe-galeri After School di Causeway Bay. Dikelilingi lukisan-lukisan modern dan grafiti. Menyesap cangkir demi cangkir kopi. Semua ini seharusnya terasa menghangatkan. Menenangkan. Tetapi sebaliknya, semua ini justru membuatku depresi. Karena seharusnya, ada kamu...
Feb 2, 2010: Kita
Selama kita tidak bercakap tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja. Benarkah begitu? Aku kesepian. Causeway Bay tanpa kamu seperti ribuan bola lampu yang terlalu terang. Menyakitkan untuk dipandang. Sakit yang familiar. Seperti juga sengatan di hatiku ketika kita berpisah. Ketika kamu memutuskan untuk memilihnya pagi itu. Dia—bukan aku. Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak...
Feb 1, 2010: Bintang
Setiap kali menengadah pada bintang-bintang di langit malam, aku selalu melihat kita di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu. Rasanya sudah lama sekali sejak kita bertemu untuk yang pertama kali. Aku hampir lupa seberapa sering kita bicara hingga dini hari. Atau diam saja memandangi hujan sampai bosan. Dan aku sungguh-sungguh lupa kapan terakhir kali kita tertawa bersama. Kapan terakhir kali...