Selama kita tidak bercakap tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja. Benarkah begitu?
Aku kesepian. Causeway Bay tanpa kamu seperti ribuan bola lampu yang terlalu terang. Menyakitkan untuk dipandang. Sakit yang familiar. Seperti juga sengatan di hatiku ketika kita berpisah. Ketika kamu memutuskan untuk memilihnya pagi itu.
Dia—bukan aku.
Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak bertanya mengapa dia—dan bukan aku. Karena bukankah kita memang tidak pernah bicara tentang cinta ketika memutuskan untuk bersama? Bukankah seperti selalu, seperti selayaknya, kita hanya mengada? Tanpa pernah mempertanyakan rasa macam apa yang selama ini kita genggam dalam jari-jemari kita yang bertaut?
Sehingga di sinilah aku, bertahun-tahun setelah perpisahan itu. Di detik yang merapuh ini. Sendiri.
Dulu, kita selalu membicarakan hari ini: HongKong di malam hari, gemerlap lampu berwarna-warni dari gedung-gedung tinggi, asap hidangan laut yang dibakar di atas arang, berkotak-kotak makanan Cina dari restoran yang diterangi lampu neon, menyusuri Tsim Sha Tsui sambil menyanyikan I’m Walking on Sunshine yang selalu bisa membuat suasana hati kita berubah ceria itu:
I used to think maybe you loved me, now I know that it’s true
and I don’t want to spend my whole life just in waiting for you
I’m walking on sunshine… and don’t it feel good!
Seharusnya ada kamu di sini. Bersamaku. Kita akan berbicara keras-keras dan terbahak pada hal-hal yang kelucuannya hanya bisa dimengerti oleh kita berdua. Orang-orang akan menoleh ke arah kita: sedikit kesal, sedikit iri. Berharap mereka bisa memiliki ketidakpedulian kita ini separuhnya saja. Untuk memekik, tertawa, dan berkejaran di trotoar yang sesak ketika ingin. Seperti pasangan yang tengah kasmaran.
Seperti.
Dan kita selalu terhenti sampai sejauh ini. Sejauh kata ‘seperti’. Karena kita tidak pernah tahu. Aku tidak pernah tahu. Karena selama kita tidak bercakap tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja. Ini seperti sebuah kesepakatan tidak tertulis, yang tidak seharusnya kita langgar. Dan semua mimpi buruk ini, kesendirian kita, perpisahan pagi itu, keputusanmu memilih dia—semuanya adalah semacam kutukan yang jatuh di atasku.
Karena aku bertanya tentang kita.
Are we together?
Dan kamu membeku seperti mendengar sesuatu yang tabu, yang tidak seharusnya. Mengapa? Mengapa begitu? Mengapa kita tidak bisa memberi nama terhadap rasa yang kita punya dan tetap baik-baik saja?
Causeway Bay, hari kedua di bulan Februari. Suhu udara 15 derajat Celcius. Pukul 10.42 malam hari menurut jam digitalku. Detak sepatu kanvasku di atas aspal, bunyi denting samar kancing jaketku yang saling beradu… dan aku berlari menuju entah.
Hidupku telah terlalu terbiasa tertuju kepadamu. Ketika kamu tidak di sini, aku kehilangan arah. Aku tersesat.
I miss us, and all the things we’ve accidentally missed.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010