Cangkir kopiku yang ketiga. Dan satu-satunya hal yang berkecamuk dalam benakku hanyalah: untuk apa aku di sini?
Mendamparkan diri di kafe-galeri After School di Causeway Bay. Dikelilingi lukisan-lukisan modern dan grafiti. Menyesap cangkir demi cangkir kopi. Semua ini seharusnya terasa menghangatkan. Menenangkan. Tetapi sebaliknya, semua ini justru membuatku depresi. Karena seharusnya, ada kamu di sini. Kenangan kita berdua ternyata terlalu sedih ketika hanya dijalani seorang diri.
Aku masih ingat, bertahun-tahun yang lalu, ketika kita tengah berada di dalam trem yang melaju menuju The Peak. Di luar gerimis. Udara dingin membuat kaca jendela berembun. Dengan telunjukmu, kamu melukis gambar hati di sana, kemudian menorehkan inisial namaku di dalamnya.
“Ini hatiku,” katamu. “Di situ ada kamu…”
Waktu itu, kamu terdengar menggemaskan. Gambar hati itu terlihat lucu. Aku memelukmu hangat. Sedetik, dua detik, hingga kurasakan sesuatu bergetar di saku jaketmu. Kamu melepaskan pelukanku, meraih ke dalam saku, dan mengeluarkan telepon genggammu.
Dan namanya berkelip-kelip di layar.
Seperti sihir yang membuatmu lupa; kamu berbalik memunggungiku, dan berbicara dengan suara rendah agar aku tidak mendengar.
Tetapi aku mendengarnya. Kalian berbicara, lama. Kamu mengucapkan aku-juga-kangen-kamu dua kali, dan I-love-you satu kali.
Aku memalingkan wajahku ke jendela. Masih ada gambar hati yang kau lukis dan inisial namaku di dalamnya. Tetapi tidak ada lagi yang lucu dan menggemaskan dengan semua itu. Yang nampak di mataku hanyalah sebuah kebohongan besar. Pelan-pelan, kulayangkan telunjukku menyentuh jendela yang dingin. Sedingin hatiku. Lalu kugambar retakan di hatimu itu. Seperti retakan di hatiku.
Seperti biasa, kita tidak pernah membicarakannya. Karena kita akan baik-baik saja selama kita tidak berbicara tentang ‘kita’.
Jadi, kamu mematikan telepon genggammu. Tersenyum kepadaku seakan segalanya sempurna. Kemudian bertanya apakah setelah sampai nanti, kita akan langsung menuju Pearl on The Peak. Menikmati pemandangan HongKong di waktu malam dari ketinggian, untuk yang terakhir kali.
Dan di sanalah kita menghabiskan malam itu. Berbincang, tertawa, menyesap bergelas-gelas wine berdua…
Tentu, saat itu, kita tidak tahu bahwa kita akan berpisah pada suatu pagi yang kelabu. Karena ketika tengah bersamamu, perpisahan terdengar seperti sebuah konsep yang sangat jauh. Begitu jauh sehingga kita tak akan tersentuh.
Tetapi, di sinilah aku. HongKong, sekali lagi. Sendiri. Tanpamu. Mengejar bayanganmu setelah bertahun-tahun berlalu, tanpa tahu apakah kamu masih menginginkanku. Untuk apa aku di sini?
Entahlah. Untuk kita, mungkin.
Untuk sebuah kesempatan.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010