Perpisahan, sedianya melibatkan dua orang: ia yang tinggal, dan ia yang pergi.
Seperti pagi itu, ketika kamu memutuskan untuk memilihnya dan meninggalkanku.
Jadi bayangkan, betapa sepinya perpisahan yang harus dilalui seorang diri. Seperti berkali-kali; seperti setiap hari, ketika aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kepada kenangan. Kepada kita. Kepada rasa yang pernah kita punya; hanya untuk menemukan diriku kembali terdampar di tepian hatimu.
Aku seperti ombak yang hanya surut sebentar, kemudian berdebur kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk memecah tebing yang memagari kita. Hidup di masa lalu itu melelahkan. Tetapi hidup di masa depan tanpamu akan jauh lebih menakutkan. Bahkan hanya untuk kubayangkan.
Malam ini, aku memandangi sosokmu dari kejauhan. Kamu—dan dia. Kalian berdiri bersisian, tersenyum, membenturkan gelas-gelas wine kalian, berpelukan, tertawa, menyapa wajah-wajah asing yang memberimu ucapan selamat dan tepukan bersahabat di bahu. Lalu ia meremas jemarimu, dan kamu mengecup pipinya.
Meski langit HongKong di atas Sky Terrace West Deck ini cerah, langit hatiku menurunkan hujan.
Seharusnya aku sudah terbiasa dengan semua ini. Dengan rasa sakit ini. Dengan rasa perih yang mendesak-desak di balik kelopak mataku ini. Kutengadahkan wajahku ke langit, kemudian kutekan-tekan kelopak mataku untuk mengusir rasa itu pergi. Tetapi rasa itu tak mau hilang dan tetap bertahan. Karena rasa itu tak ada di sana. Pedih itu bukan di mata; tetapi di hatiku. Sejenis ketiadaan akan kamu yang meremukkan segalanya. Menyesakkan.
Tetapi akulah yang memilih untuk berada di sini. Hanya untuk melihatmu, bersamanya, di atas rasa sakit yang kini sudah berubah menjadi candu. Di sanalah kamu. Di tengah impianmu. Impian kita.
Kamu pernah berbisik kepadaku, dulu. Di sebuah jalan setapak kecil di Ubud, sepulangnya kita dari rumah seorang perempuan Bali yang gemar melukis cahaya bulan.
Di depan hamparan sawah, kamu membisikkan sebuah janji. Bahwa kamu akan membagi impianmu ini bersamaku. Bahwa kita akan mengabarkan kepada dunia mengenai perempuan-perempuan pelukis ini. Mereka yang melukis dengan hati dari segenap penjuru negeri. Kita akan mengabadikan mereka melalui feature yang kau tulis; gambar-gambar yang kau ambil dengan Canon EOS 5D Mark II-mu, serta sebait puisi yang kutorehkan di mula, untuk membuka setiap nama, setiap cerita.
“Seperti aku mengabadikan kamu, pelukis hatiku, puisi jiwaku… ” Dan bisikmu mendarat di bibirku. Membungkus duniaku dalam sepenuh-penuhnya kamu. Suaramu lesap ke dalam kalbuku seiring senja yang menebar di angkasa kala itu.
Tetapi ternyata masa depan memilih untuk melukiskan dirimu, bersamanya. Tertawa di atas impian kita berdua.
Kuletakkan seratus lima puluh dolar HongKong di atas meja yang memajang impian kita itu. Coffee-table book dengan sampul keras dan halaman-halaman yang berkilauan; dengan namamu dalam tinta keperakan. Aku cukup membukanya satu halaman saja untuk melihat semua: feature yang kau tulis, gambar-gambar para perempuan pelukis…
… tanpa puisiku.
Ah, kamu benar.
Tidak ada lagi ‘kita’, bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak mula kita bangun berdua. Ini impianmu. Hanya kamu. Dan ada dia di sampingmu, yang berbagi malam ini bersama kamu.
Aku tidak tahu apakah aku harus merasa bahagia untukmu; atau merasa terluka untuk masa lalu.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010