HongKong International Airport, pagi hari. Penerbangan pertama menuju Jakarta. Satu jam lagi, dan pesawat ini akan membawaku pergi. Meninggalkanmu untuk yang kesekian kali. Inilah salah satu di antara ratusan episode perpisahan yang kulalui seorang diri. Koper merah mungilku tergeletak di atas pangkuan, berat disesaki sekian kenangan tentangmu.
Tidak ada gunanya berlama-lama di sini. Mungkin kesempatanku sudah habis malam tadi. Bukankah pernah ada saatnya ketika kita begitu dekat sehingga kita bisa merasakan keberadaan satu sama lain dari jarak ribuan kilometer sekalipun? Kini aku berada di ruang yang sama dengamny, tetapi kau bahkan tidak menyadari keberadaanku.
Tahukah kamu, betapa aku berharap kamu akan menoleh ke arahku? Atau mencariku dengan hatimu. Kemudian raut wajahmu akan berubah cerah; sekaligus resah; karena kamu tahu bahwa aku ada.
Tetapi tidak. Malam tadi, hanya dia yang ada dalam jarak pandangmu. Aku seperti hantu yang datang dari masa lalu. Sesuatu yang mungkin ini kau usir pergi untuk tidak pernah kau lihat lagi.
Entahlah.
Semua ini terlalu rumit untukku. Seperti baris-baris dalam suratmu tentang perpisahan kita pagi itu. Surat yang sudah kubaca berulang kali hingga lipatan kertasnya sudah nyaris hancur dan tinta hitamnya mulai luntur.
Kau katakan bahwa kita membutuhkan jarak. Membutuhkan ruang. Demi ‘kita’.
Aku tidak mengerti.
Kau pernah bilang, bahwa kebersamaan kita menyakitkan. Bahwa semakin lama kita bertahan, semakin perih luka yang akan kita timpakan di atas satu sama lain. Bahwa perpisahan ini untuk kebaikan kita berdua. Demi kita.
Tetapi sekarang, aku tidak yakin.
Karena cinta yang melukai, kita berpisah. Hanya untuk menemukan bahwa perpisahan itu melukai kita, jauh lebih dalam. Jika keduanya, kebersamaan dan perpisahan—sama-sama melukai, mengapa kita tidak terluka saja berdua, dan bukan sendiri-sendiri?
Ini terlalu berat untukku.
Mengapa hanya aku yang mencoba meraihmu? Mengapa hanya aku yang menginginkan ‘kita’? Mengapa hanya ada aku, sendiri, di sini?
Karena kamu sudah tidak mencintaiku.
Suara itu dingin, seperti es yang menjalari jemariku. Jemariku yang menggenggam surat terakhirmu itu. Semua itu omong kosong. Bahwa kamu pergi meninggalkanku dan memilih dia—‘demi kita’. Agar kita tidak saling menyakiti lebih jauh lagi. Karena kamu terlalu mencintaiku untuk melihatku tersakiti…
Tidak, kamu memang sudah tidak menginginkan aku lagi.
Sekarang, aku yakin itu.
Perjalanan pulang ini, tidak akan mengobati luka. Meninggalkanmu di sini, tidak berarti aku lupa. Aku hanya lelah. Bertahun-tahun aku mengejarmu dengan sayap-sayap patah, menuju tempat-tempat di mana kamu berada, hanya untuk menemukanmu bersamanya. Tertawa bahagia. Kamu baik-baik saja tanpaku, sementara aku tidak tahu apakah aku masih sanggup terbang menggapaimu.
Jadi, begitulah. Hari ini, di sini, sekali lagi, kita berpisah…
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010