He taught himself how not to lose
By never really trying to win
That’s how the man in front of you became
The boy who never
Apakah kamu masih berada di HongKong? Untuk berapa lama? Masihkah kamu bersamanya?
Pagi itu, dunia berwarna ungu kelabu. Hujan masih belum berhenti sejak dini hari. Membawa dingin sampai ke dalam hati. Hati yang sendiri. Kemacetan membuat taksi yang kutumpangi harus terhenti berkali-kali. iPod-ku tengah memutar The Boy Who Never-nya Landon Pigg ketika dari balik jendela yang berembun, pandanganku tertumbuk pada secangkir masa lalu.
I’m afraid of what might happen if
Together we build a wall
Cause the only kind of love that never gets built
Is the only kind of love that never falls
Tea Addict Gunawarman; sebuah kedai teh yang biasa kita singgahi untuk melarikan diri dari keramaian. Tempat ini biasanya sepi di pagi hari. Ada sofa di sudut yang tersembunyi tempat kita bisa menghabiskan waktu berdua saja, tanpa perlu kuatir akan terlihat oleh siapa-siapa. Mereka yang mengenal kita hampir tidak bisa ditemui di sini.
Dan rasa sakit itu kembali, seperti gelombang hitam yang menggulungku dan hendak menyeretku tenggelam. Mengapa kita selalu harus mempertimbangkan hal-hal seperti ini jika hendak meluangkan waktu bersama? Tidak bisakah kita berpegangan tangan dan membiarkan seluruh dunia melihatnya? Tidak bisakah aku memelukmu dari belakang tanpa perlu mencemaskan kata orang tentang kita?
Mungkin, sejarah kita akan mengubahku untuk selamanya. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi percaya pada rasa serupa cinta yang harus dijalani secara sembunyi-sembunyi. Bukankah cinta seharusnya membebaskan, dan bukan membebani? Ataukah utopia mengenai cinta yang membebaskan itu hanya ada dalam angan-anganku sendiri?
Iced mint green tea dengan es krim vanila di atasnya untukku. Cammomile tea untukmu. Biasanya begitu. Kita selalu bercakap hingga kehabisan waktu; hingga kita harus beranjak pulang dengan terburu. Dan kamu akan bersikeras untuk mengantarku, enam puluh kilometer jauhnya; atau empat puluh lima menit jika perjalanan menuju kota hujan benar-benar bebas hambatan. Kemudian kamu masih harus menempuh jarak yang sama dan kembali lagi ke sini. Kotamu yang kau bilang kau benci ini.
Aku jadi ingat, saat pertama kali kamu mengantarku pulang. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Aku sudah memintamu tidak perlu menemaniku. Aku sudah terbiasa ke mana-mana sendirian. Dan kamu sendiri pernah bilang, aku ini perempuan urban. Jadi tidak ada yang perlu kamu cemaskan.
“Ini bukan karena aku cemas, tetapi karena aku ingin,” katamu. “Aku ingin melihat kebun tempat kamu berkejaran dengan anjingmu setiap pagi; ingin melihat rumah yang membuatmu nyaman untuk rebah setiap malam; aku ingin melihat jendela tempat kamu biasa termenung memandangi hujan.”
“Tetapi ini sudah hampir tengah malam, bukankah masih ada esok hari?”
“Aku tidak mau berjudi dengan waktu…”
Mungkin jawabanmu itu juga sebuah pertanda. Bahwa kita tidak akan bertahan selamanya. Bahwa perpisahan itu tidak sejauh yang kita kira. Mungkin kita memang tidak membutuhkan selamanya. Sebentar yang bermakna itu bisa jauh lebih berharga. Setiap kenangan kita yang diabadikan lewat lensa mata. Dan kita bisa memutar ulang setiap adegan yang pernah kita lewati bersama hingga bosan.
Seandainya kita tidak perlu menyembunyikan rasa yang kita punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin akan ada lebih banyak kenangan yang bisa kita simpan.
Tetapi kita tidak akan pernah tahu. Kamu terlanjur pergi meninggalkanku.
I never let my heart speak through my lips
I never let my hands rest on your hips
I never said ‘I love you’
But a heart never lies
I know you heard me say it when I said it with my eyes
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010