Tidak, tentu saja kita tidak bisa kembali menjadi teman. Ingin sekali rasanya kutuliskan kata-kata ini untuk membalas surat yang kau kirimkan.
Kamu pernah memiliki waktu yang tak terhingga, dulu. Untuk duduk bersamaku, menikmati kopi dan teh di kala hujan, menonton DVD film-film pemenang festival sambil berbagi sepiring aglio olio di atas tempat tidur, atau hanya untuk diam memandangi langit yang tidak pernah sepi.
Tetapi waktu kita sudah habis. Kamu sudah memilih untuk pergi meninggalkanku dan menghabiskan sisa waktumu bersamanya.
Lalu, aku bisa apa? Bukannya aku tidak mencoba. Bukannya aku tidak setia. Selama bertahun-tahun ini, aku lebih memilih untuk sendiri. Untuk hidup hanya dari kenangan-kenangan akan kita. Aku memilih untuk hidup di masa lalu, bersamamu. Aku mencoba menghentikan waktu di tempatku, sehingga selamanya hanya akan ada aku dan kamu.
Aku terbang menuju tempat-tempat di mana kamu berada, hanya untuk melihatmu dari kejauhan. Kuikuti apa yang terjadi dalam kehidupanmu, seolah-olah aku masih menjadi bagian di dalamnya. Kutuliskan surat-surat untukmu, yang tak pernah kukirimkan, hanya agar aku merasa bahwa kamu masih ada untuk mendengarkan cerita-ceritaku.
Tetapi waktu di tempatmu terus berjalan. Kamu dan dia terus bersama-sama. Melewati sekian tahun yang tidak menginginkan aku menjadi bagian di dalamnya. Setidaknya kalian memiliki satu sama lain. Kalian memiliki masa depan.
Yang kumiliki hanya masa lalu yang sendirian.
Aku lelah.
Rasanya aku sudah menunggu terlalu lama untuk gambaran mengenai kamu di masa depan. Kamu yang kembali, kamu yang memutuskan untuk meninggalkannya, kamu yang memilih untuk bersamaku. Tahun-tahun berlalu, dan masa depan itu tidak kunjung datang; sementara masa lalu ini terasa semakin membosankan. Bayanganmu tidak lagi cukup untuk membuatku baik-baik saja.
Aku hanya ingin berbalik meninggalkan kemarin dan berlari menuju esok hari.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010