Malam tadi, aku bermimpi.
Dini Hari datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku. “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” katanya.
Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkan Dini Hari kepadaku.
“Entahlah,” Dini Hari mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”
Aku menyesap kopiku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu:
Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia?
Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia…
Jadi?
Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari.
“Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya Dini Hari.
“Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?”
“Karena dulu kamu memilikinya,” Dini Hari menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?”
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kutatap Dini Hari tepat di matanya.
Dini Hari tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes-ku. Time After Time-nya Cindy Lauper.
after my picture fades and darkness has
turned to gray
watching through windows—you’re wondering
if I’m OK
secrets stolen from deep inside
the drum beats out of time…
“Ini saatnya bagimu untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.”
Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan-pilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan padanya.
“Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar Dini Hari.
“Apa?” tanyaku.
Dini Hari tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”
Aku tersipu. Aku tahu siapa seseorang itu. Dan aku tidak lupa.
“Aku hanya ingin bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopiku dengan kedua telapak tangan.
“Kita semua menginginkannya,” Dini Hari mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010