One’s fairy tale is always somebody else’s nightmare.
Ketika seseorang diam-diam menyimpan rasa, ada seseorang yang tengah berupaya menepiskannya. Ketika sekeping cinta dilepaskan ke udara, ada seseorang yang berlari untuk menangkap jatuhnya, sementara seorang lagi bersembunyi agar tak terkena serpihannya. Setiap kali ada orang yang jatuh cinta, pada saat itu pula selalu ada orang yang patah hati.
Mungkin perpisahan kita menjelma dongeng terindah untukmu; tetapi merupa mimpi buruk untukku. Dan percayalah, tidak ada seorangpun yang hendak tertidur selamanya ketika tengah terperangkap dalam sebuah mimpi buruk. Sama halnya dengan aku.
Setelah bertahun-tahun ini hidup dalam kenanganmu, aku menyadari sesuatu yang pelan-pelan naik ke permukaan. Betapa aku telah begitu terbiasa hidup tanpa kehadiranmu. Betapa ternyata aku telah baik-baik saja tanpa kamu di sisiku.
Memang, aku masih sering memutar kenanganmu di masa lalu untuk melepaskan kerinduanku akan waktu-waktu yang tak sempat lagi kita habiskan berdua. Tetapi ternyata kenangan tentangmu sudah cukup untuk membantuku melewati hidup yang tak pernah menjadi lebih ramah.
Frekuensi pemutaran kenangan-kenanganmu pun semakin jarang. Tidak setiap rintik hujan mengingatkanku pada kita; pada trem yang akan membawa kita ke The Peak di HongKong waktu itu; atau pada sekian malam yang kita habiskan menghirup cangkir demi cangkir teh di Tea Addict.
Semakin kerap rasanya ketika hujan hanyalah menjadi hujan. Yang indah dipandangi dari balik jendela, dengan selintasan pemikiran acak di benakku: hazelnut latte hangat, pekerjaan yang harus kuselesaikan besok pagi, wangi samar Love dari koleksi parfum Harajuku Lover-ku, bait-bait Viva La Vida-nya Coldplay, film New York, I Love You… semua hal yang tak lagi berhubungan dengan kamu.
Dari balik jendela taksi yang berembun di malam hari, kupandangi lampu-lampu yang menyala, gedung-gedung tinggi, menara listrik dengan kilatan-kilatan yang nampak mengerikan… dan di bingkai jendela, hanya terpantul wajahku. Tidak ada lagi kamu yang mendesak-desak di sana dan membuatku hanyut dalam malam-malam yang sendirian.
Apakah aku sudah mulai begitu terbiasa tanpamu?
Perasaan ini mulai terasa ringan. Menyenangkan. Membebaskan. Bisa jadi, memang terlalu berat untukku jika harus kemana-mana membawa-bawa beban dua orang. Melepaskanmu mungkin bukan hal terburuk yang bisa kulakukan—setidaknya untuk diriku sendiri.
Karena aku juga ingin cepat terbangun dari mimpi buruk ini dan tersenyum kembali pada matahari.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010